Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Sunday, March 31, 2013

Now and Then

Every now and then, gue capek belajar. It's an awful sickness. The meds? My music. Going out at night and getting home late. Buying unnecessary books that only has fifty phrases in it. Getting the car out and just driving randomly around the neighbourhood. Not caring about home works. Making sketches from upper view of my future room. Making sketches from upper view of my future apartment. Opening random blogs on my top sites. Finding funky songs. Calculating my living cost in Germany. Calculating how much it costs me a trip to Venice, Paris, Amsterdam, London, Athens, Vienna, Zurich. Go on facebook and having crazy flashback. Cry. Wasting my money on nail polishes that don't match my skin tone. Mop the floor. Having an OCD laundry day by separating everything by its colours and shades and prints and everything I like. Watch Gilmore Girls. 

"Tell him that you're never gonna leave him, tell him that you're always gonna love him, tell him-tell him-tell him-tell him right now."

Every now and then, gue capek ketemu orang-orang. Makanya gue sering bolos sekolah pake akting sumbilangeun. Kalo gak lagi sumbilangeun? Puasin aja tidur, udah jam enam tapi tidur lagi. Tetiba kan bangun jam tujuh terus gak bakal sempet ke sekolah.

Every now and then, gue kangen sama orang-orang. Makanya gue suka ngebaikin dan ngeiyain maunya orang yang deket-deket sama gue. Kalo tiba-tiba gue baik tapi lo gak (ngerasa) deket sama gue, berati gue yang ada maunya. 

Every now and then, gue bosen baca buku. Maunya dibacain. Kalo udah kaya gini, gue cuma bisa ngayal gue punya kakak yang bisa bacain cerita. Tapi abis itu ngerasa idiot, masa iya, udah bisa ngomong foul tapi buku masih dibacain.

Every now and then, gue jatuh cinta. Terus... Terus...

(efek PowerPoint yang Fade Out)

Sunday, March 10, 2013

...

Kali-kali ngepost pake bahasa indonesia.

Bete ya hari ini mau OOTD ke taste test tapi malah lupa. Belum biasa apa gimana, nggak ngerti. 

Jadi hari ini taste test buat venue ulang tahun. Di Kemang. Semoga kalian nyampe di sana ya:)) Makanannya enak-enak tapi sayang cakenya agak kering. Efek kulkas kali ya. 

Terus mau ngomong apa gak tau. Sekarang lagi deg-degan aja sih MU lawan Chelsea. Di Old Trafford pula. Biasanya sih kalo away, Chelsea mainnya bagus. Tapi MU juga pasti bagus, masa iya di kandang sendiri kalah. Kalo kalah, si Abiw sama Amel bisa busuk gue ledekin. Kalo gue kalah, bisa nangis gue dibusukin mereka berdua. Dilema ya, segeng tapi beda visi. Alah. Apa coba beda visi.

(Gak bahas Howard Webb kok. Itu urusan Sir Alex sama Tuhan aja)

Bete apa lagi ya. Entah kenapa sekarang gue jadi tukang bete (dan marah-marah gak jelas. Meja ruang PAI catnya pada bocel-bocel karena gue garukin. Ada yang bentuk gunung sama pedesaan. Ada yang lain lagi yang gak jelas. Maafkan aku ya Tuhan) dan sebenernya nggak enak. Kelebihan hormon apa gimana. Terus sekarang pilek yang bener-bener pilek. Nggak kaya biasanya. Biasanya tuh bengek terus ingusnya gak bisa keluar, jadi bikin sesek. Kalo sekarang, meler terus bersinnya banyak kali. Ini gak asik. Besok harus bawa tisu sama kantong plastik. Abis, tong sampah di BI minim. Gak kaya dulu di Spensa. Eh, gak boleh bandingin.

Sekarang udah gak galau lagi dong. Ini penting banget. Asal jangan dibahas aja ya, gue bisa nostalgia terus ntar terjebak. Berasa Raisa. Tau dari mana Brin? Soalnya sekarang gue ngefans matinya sama Nolan Funk. Karena ada cowok di luar sana yang menurut gue kaya Nolan Funk. Dikit sih, tapi yang penting sekarang Nolan Funk yang mendominasi otak gue. Nolan Funk, sama Branislav Ivanovic. Tapi mana ada kw-annya Branislav Ivanovic di dunia ini. Ada sih, tapi di Cake Boss, dan itu jauh juga. Jadi nggak diitung. Gue pingin ngestalk Nolan Funk di tumblr, malah dapet spoiler. Dunia emang jahat. Terus Nolan Funk yang dulu agak cupu dan gak se'hot' sekarang. Nggak papa, manusiawi. Untuk gue yang bisa ganti muka sebulan sekali (kalo merhatiin foto gue, itu agak agak zonk karena muka gue berubah terus. Entah efek kamera, atau efek filter Camera360, atau muka gue keseringan berkembang. Yang udah pasti tetep sipit dan beler kaya zombie), itu wajar banget. Sebenernya lebih mirip ke Jacob Artist sih tapi kita diem-diem aja. Soalnya Nolan Funk lebih keren. Apanya? Nggak tau. Pokoknya lebih keren.

Udah ah. Gue mulai deg-degan parah gamenya mau mulai. Food for your thoughts:


Oh iya, gue berenti celfit, terus disuruh nari Jawa. Gak papa kok.

Thursday, March 1, 2012

Two hearts collide

Tugas puisi berkelompok dari Ibu Ani! Teamed-up with Icha dan menghasilkan puisi tergalau seperti biasa. Disaat yg lain ngomogin perang, persahabatan, sampe akhirat(?), kita ngomongin menginginkan suatu yang tidak bisa kita miliki. Enjoy!

---

Hampa

Teriknya matahri tidak membangunkanku
Dari sunyi senyap ruangan
Bau basah bercampur lumut
Tempatku menyimpan sejuta mimpi
Sejuta angan yang memintamu disini

Di ruangan kosong yang kusebut hati
Ku pahat namamu, nafasku memburu
Mengingat kau adalah hal terindah
Yang tak dapat mengisi relung hampa di hatiku.

Kucoba terus menyibak harap
Yang terbungkus kelambu kelam
Berpita memori nanar
Akan hadirmuu yang tak akan tergantikan
Mencoba pergi, aku terluka
Mencoba tinggal, aku membeku

Baringkan tubuku di atas pahit harapku
Isi semua kantungku
Dengan egoku yang telah membatu
Menenggelamkanku lebih dalam
Hingga aku menyentuh dasar
Yang kosong
Yang merunduk menuju pilu

---

Moved on, but have not stopped loving.

Thursday, February 23, 2012

Jenuh




Lagi mood berbahasa indonesia nih. Mungkin masih tersisa pengaruh Nostalgia yang kemaren baru bikin, dan akhir-akhir ini nggak ada yang bisa di bahasa inggris-in. Anyway, enjoy my bahasa post!

---

Terkadang, lari adalah satu-satunya jalan yang tepat. Meninggalkan seluruh kenangan dibelakang dan membuka lembaran baru, meneruskan langkah dan menjadi tak terhentikan. Terkadang, lari adalah satu-satunya jalan yang tepat. Terkadang, bukan.

Aku selalu berlari dan mencoba beradu kecepatan dengan waktu, menggunakan setiap detikku dengan sempurna dan tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu. Tetapi ketika aku berlari dan mencoba melawan waktu, suatu yang membayangiku selalu menepuk lembut bahuku dan meminta untuk berlari lebih pelan, dan lebih pelan, dan terhenti. Membiarkan diriku termakan memori dan kenangan yang terus membanjiriku dengan hiasan hiasan lama dan rangkai kata yang memudar termakan umur. Membuatku untuk meraih lebih tinggi, lebih tinggi akan suatu yang tak pernah ada, atau tak lagi ada.

Terkadang aku tak membiarkan suatu itu menghancurkanku lebih parah. Aku menambah kecepatanku dan berpacu dengan waktu, berharap suatu itu tertinggal jauh dibelakang dan meninggalkanku sendiri menyepi. Namun, yang kulakukan hanya membuat duniaku berputar lebih cepat dan membuatku mundur teratur dan kembali pada titik tersebut, dimana seluruh hal yang berada disekitarku menjadi lebih sensitif dan menarik kasar diriku untuk terjun ke dalam kenangan yang terhempas waktu dan warna yang membiru.

Sampai detik ini, aku tak tau bagaimana caranya untuk berhenti terhanyut dalam semu, berhenti berlabuh dalam pilu, berhenti bertemu dengan sendu. Ketika cinta menjadi suatu yang tabu untuk dibicarakan dan ketika hati berhenti bergetar. Ketika rintik hujan menyentuh bumi dan mengedarkan sebuah aroma yang kuat dan menyesakkan. Ketika matahari mengeringkan genangan air dan kita berhenti bercermin. Tempat-tempat yang aneh untuk memulai perjalanan waktu, tapi hanya disitu aku menemukan sisa pembicaraan tengah malam kita, diikuti dengan senyuman yang meleleh dan daun rindu yang berguguran.

Satu demi satu.

---

God, what has gotten into me.

Wednesday, February 22, 2012

Prolog: Siapa dia?

Kamu. Kamu seperti sepercik api yang tak kunjung padam, setetes air yang tak pernah mengering, sekuntum mawar yang tak akan layu. Kecil, simpel, namun bermakna dan membekas.

Aku masih ingat saat jari kita bertautan. Tidak pada kencan pertama, kedua, atau ketiga. Aku ingat, kita mulai berpegangan tangan di kencan keempat. Saat aku berjalan melewati rak buku fiksi di toko buku lama dan menggapai Shakespeare's Midsummer Night's Dream, membolak balik halamannya yang termakan waktu, terlihat lelah dan rustic, memuat bau buku tua yang sangat tajam. "Aku mau ini, aku boleh beli kan?" Kalimat pertama yang aku ucapkan di kencan tersebut. Saat kamu menggapai bundelan tua, meraba kertasnya, "Shakespeare lagi, kamu yakin? Aku nggak mau kamu menggantung harapan aku bisa sepuitis dia. Yang lain aja, yang lebih realistis." ujarmu, mengembalikan buku itu dirak. Nyaris saja kamu berbelok ke lorong buku sebelah, tapi aku reflek menarik tanganmu dan merengek, "Please? Siapa juga yang mau berharap kamu sepuitis Shakespeare, tapi aku mau baca Midsummer Night's Dream?" Dan saat itu aku sadar. Tanganmu ada ditanganku, dan matamu melekat di sentuhan reflek yang kuberikan. Aku menarik tanganku, melepaskannya dari ikatan tersebut, dan berkata, "Yasudah kalau nggak boleh. Aku cari yang lain." Tapi saat aku berbalik arah, menuju rak buku lain untuk mencari Proust, kamu meraih lenganku, menarik Midsummer Night's Dream dari rak, dan menggeretku ke kasir. 

"Satu. Nggak boleh bete sampai satu minggu kedepan." Mana bisa aku bete, kalo aku punya bacaan kualitas Shakespeare ditangan? Saat aku memekik kegirangan, kamu menggapai sesuatu dipunggungku dan mengeluarkan benda manis itu. "Buat kamu. Aku nggak bisa berkomunikasi dengan kata, but action is better than words." Mawar yang sudah mengering itu masih kusimpan dibagian paling belakang lemari pakaianku.

---

Entahlah, antara mata hijauku yang terlalu cerah atau rambut coklatku yang terlalu pekat. Orang orang tidak pernah menanggapku serius. Namun kamu, kamu percaya ada seorang kutu buku berantakan yang memakai kacamatanya terlalu longgar, yang menyelami buku lima ratus halaman dan mendengarkan Frank Sinatra dengan vinyl dalam diriku. Yang impulsif, yang terlalu sederhana untuk dirusak. Aku sedang menunggumu dibangku kedai kopi klasik, beraroma espresso, bernuansa coklat dengan kontras karamel, berperabot rotan dan kaca hitam yang gelap, misterius. Saat kamu datang, menggunakan sehelai kemeja yang lelah dan celana jeans yang kusut. "Ibu, ibuku baru saja terkena serangan jantung."

---

Aku terduduk di bangku rumah sakit modern itu sambil mencengkram segelas kopi berwarna hitam pekat. "Aku terlalu muda, aku nggak tau ibu kenapa." "Kamu kira aku juga tau?" Aku menguatkan cengkramanku pada gelas kopiku. Gelas kertas itu nyaris saja tertekan dan menumpahkan sebagian isinya diatas rok pastelku. Dia hidup tanpa ayah. Sesaat setelah ia lahir, ayahnya mengalami kecelakaan di jalan tol dan meninggal di ambulans. Aku lupa apa rasanya dibelikan mainan oleh ayah, diajari memanjat pohon dan menerbangkan layangan. Saat dia mengatakannya, aku langsung memotong dialog tersebut. Kamu nggak lupa, kamu nggak pernah merasakan. Ironis. Dan saat ini, ibunya terkulai didalam cardiac intensive care unit. Aku tidak bisa membayangkan berada di posisinya sekarang. "Kamu sudah telpon Mommy?" tanyanya saat aku memutuskan untuk memesan segelas kopi lagi. "Sudah. She sends her love. Mungkin besok dia datang dan menjenguk Ibu."

"Keluarga Ibu Ararya?" seorang dokter pria berkacamata keluar dari balik pintu putih berkaca bening. "Saya anaknya. Bagaimana keadaan Ibu, dok?" tanyanya. Aku menahan diriku untuk turut berdiri dan mengajukan sepuluh pertanyaan tentang kondisi ibu sekarang. "Ibu sudah semakin membaik, walaupun masih butuh beberapa hari untuk pemulihan." kata Dokter Stolin, membolak-balik kertas dipapan jalannya. "Beberapa saat lagi ia akan terbangun, kamu bisa mengunjungi ruangannya di kamar 254." Ia tersenyum tipis dan kembali menghilang dibalik pintu putih itu. "Kamar 254 adalah kamar ekonomi. Aku tidak bisa membiarkan Ibu pulih diruangan yang tidak kompeten. Aku akan coba bicara pada suster." Namun aku sudah tak bisa melihat wajahmu yang memucat dan terlihat pias setiap menit. Walaupun ragu, aku membiarkan kata-kata yang menggantung diujung lidahku itu bebas, mengalun hingga telingamu. "Pergilah ke kamar Ibu, aku akan mengurus kepindahan ibu."

Aku dan dia, tidak berpacaran. Namun, tidak bisa disebut teman. Kami berlaku berlebihan untuk disebut sahabat. Kami tidak berpacaran, tapi kami berkomitmen. Untuk bersama disaat tipis dan tebal, disaat bosan dan terhibur. Kami sudah berkomitmen sejak aku umur tujuh belas; Aku berumur sembilan belas sekarang. Dan kamu, tidak terlihat seperti laki-laki berumur dua puluh. Kami berkenalan di kampus, cliche. Aku jurusan komunikasi, dia jurusan teknik mesin. Kami adalah dua individu yang sangat berbeda, tapi punya banyak kesamaan. Orang tua kami selalu mengira kami punya tujuan yang statis, sayangnya, tujuan kami cuma satu. Bahagia. Dan terkadang, bahagia hanya ada di kondisi tertentu, dimana semuanya berubah dan akan menyerang waktu.

---

Aku mencoba membuka mataku. Aku terbangun diatas ranjang empuk berbantal bulu angsa yang dilapisi sarung sutera. Aku mendengar derap dentum sol sepatu beradu dengan lantai parkit kamarku. "Selamat pagi, Aleafea. Air mandimu sudah siap."

---

Satu pertanyaan; siapa lelaki itu?

Tugas Berujung Pilu

Hari ini dapet tugas bikin puisi dari Bu Ani. Puisi apa aja, yang penting ada citraannya. Citraan yang paling aku suka itu citraan penciuman, karena bau-bauan tuh paling sensitif buatku. Jangan jangan aku manusia setengah anjing-_-

Btw, puisinya sebenernya agak random, dan sedih/galau juga. See? I have proven that I can be galau, just like you guys!

"Nostalgia

Sebersit layang alis tebalmu dibenakku
Kerut matamu saat tertawa
Bariton berat menggema kelam di setiap jejak langkahku

Aku menemukanmu di tiap rintik hujan
Saar rinainya menyentuh bumi
Semerbak aroma hujan memenuhi nafasku
Segenggam kenangan menyusup anganku

Terseret hatiku mencoba mengejarmu
Terluka diriku mencari engkau
Dibalik pintu-pintu memori
Yang tersibak di balik malam gelap"

Sebenernya disitu mau ngejelasin kalau aku selalu dikejar bayangan, bayangannya semu, nggak pernah ada sebenernya. Dikejar memori, yang nggak mungkin terulang kembali. Disitu juga aku sebutin hujan, karena bau kulitnya si subyek pembicaraan ini tuh bau hujan, hence the 'aku menemukanmu di tiap rintik hujan'.

Don't we all have that bits of pieces that still love the past all over us?

Thursday, February 2, 2012

Ten four, we got a ten four around here

Ten-four is a CB radio term that means "message acknowledged."

But my version of 10-4 here is more special, more...... Awesome. I know I may went head over heels with you guys and I know how my laugh can be a burden (I hate them too, but, what can I do?), also how I can be very anxious with myself and things surrounding me. But here's the thing, you guys have earned a special place in my heart, crazy special for those who really make it. Like what Icha did, I'm going to post a brief description of people in the asylum/classroom, and I'm going to use some bahasa, yay! Btw, unlike Icha, my version is more... serious? He he I can't be funny.

Alifandi Achmad Gardadien. The bully, the evermore #ReseMastermind. You've been nothing but pain everytime I'm in class, in OSBI meetings too. And you're more noisy than me. Well. You could be. And don't engage people to bully me, just because you think it's worth smiling for.

Alifia Nur Utami Firmansyah. Si jago gambar yang kalo gambar rambut selalu f l a w l e s s.

Aris Hardianto. Nggak kenal sama sekali sebenernya, kayanya juga dia nggak pernah sebut 'Brina' ataupun apapun menyangkut aku....

Basyarayni Mawla Fatha. Dia baik banget! Pecinta Nyam Nyam Rice Crispy. Gambarnya bagus, tapi suka nggak pede. Si nggak teliti. HAAH??? JAAARRRUUUUKKKKK???

Carin Adharani. Ayn-ku sayang, Ayn-ku cinta♡ Apa artinya hari kalo nggak ada Ayn? Temen tebak tebakan anak gaul, temen "Eh ayn kamu kenal sama *isi nama disini* kannn???"

Farah Anisati Bariz. Lucu banget, kesayangan dari semua anak X4. Kalo ketawa sampe sujud, guling guling, tapi lima belas menit kemudian galau-_- Nggak kaya papan gilesan kok, soalnya kalo itu kan serem, bergerigi gitu....

Feby Wulandari. Sekalinya niat, dikerjain bener bener. Sekalinya gak niat... Disentuh pun enggak. Ya kan bi? :p

Hanifah Husein. Melayu thai-ku♡ Tumblr FAMOUS. 3k+ followers, and keep growing. Businesswoman jualan teh, ya nggak ann? :D

Ken Aully. Ini nih cs-nya Alif bikin aku sengsara dikelas. Baunya nyebar kemana mana, radius 5 m udah kecium. Kalo abis main bola, kaya abis kecebur kolam..........

Maulida Aulia Rezki. Si hamsternya cokiber x4+amel. Temenan tiga tahun bikin aku bisa gue-lu dan ceplas ceplos gila-gilaan sama dia. Kalo dia udah teriak teriak...... Bawaannya pengen kubur dalem lubang saking bikin pusingnya. Lebih riweh daripada aku, tapi anehnya nggak pernah dibully.... Mungkin aku harus punya pacar anak kelas dua belas juga.

Muhammad Novaldi. Udah berapa kali postpone, val?

Muhammad Naufal Mauludy. Lupa? O gitu ya? Guys, anything else? *clap*

Nashsharino Rudino. Deketnya sama Rifqi nggak wajar. Beneran deh. Tapi mirip, jadi kaya kembar beda ibu sm bapak. Suka aneh, kadang baik, kadang rese.

Nisrina Ulfah Budhyono. Si galaaaaaaaaaaooooooooooooooo yang jonathan. Kalo udah ketawa bareng rina+Icha, nggak bisa berenti, sampe nangis. Seru diajak sekelompok bareng, hampir semua pelajaran!:)

Nuriah Ulfah. Cantik, pake kerudungnya rapi banget. Aku terinspirasi loh.

Rifqi Fadhil Ekaputra. Si poetic. Kalo udah ngegombal nggak ada berhentinya, sok-sok anti galau padahal udah kaya makan aja galau, 3x sehari. Hasilnya? Puisi gombalan yang entah kenapa selalu ada kata bola salju-nya.
Rizky Fauziah. Kika si idaman cowok cowok! Sekelompok sama Kika juga seru, bisa diajak kerja sama banget. Semua semua pink!

Rosyidah Putri. Sering nggak masuk, apalagi hari Rabu. Inget banget dulu pernah jatuh sampe berdarah darah +roknya sobek....

And me, as the last person on earth. If I'd describe myself, I'd say I'm a very bawel person, and I'm a peace lover. 

Mwah X4!!!!!!!!!!! much xoxoxosss

Monday, January 23, 2012

Cuma Ada di Indonesia

Yup, Bahasa mode is turning on in 5, 4, 3, 2,

Aku tidak menulis kebangsaan sama sekali di blog ini, kecuali satu; Javanese alias bersuku Jawa, karena aku sangat bangga menjadi anak bersuku Jawa. Dengan sedikit kekerabatan di Keraton, aku sangat mencoba untuk mempertahankan kehitaman rambutku, kekentalan logatku, dan kehalusan perilakuku untuk menjaga nama baik suku jawa. Meskipun aku terus berusaha untuk menjelajahi keanekaragaman budaya dan terus berbahasa Inggris (Eyang Buyut Putri; berbahasa Jawa, Indonesia, dan Belanda, membuat aku terinspirasi untuk terus berbahasa asing dan daerah), kecintaanku terhadap Indonesia tidak akan terputus ketika berbicara satu hal; Kuliner Indonesia.

Sebagai orang Jawa, aku harus mengakui bahwa aku agak diluar garis. Aku tidak suka nasi. Bukan tidak suka sebenarnya, hanya saja aku tidak bisa menikmati nasi sebagai makanan pokok yang harus dikonsumsi secara terus menerus setiap hari. Walaupun dibesarkan di salah satu kota metropolitan Indonesia, Surabaya, aku tidak dibiasakan untuk mengunyah nasi setiap hari, setiap waktu makan.

Padahal, aku sangat yakin, hal yang hanya bisa ditemui di Indonesia dengan frekuensi tinggi adalah makanan yang disajikan dengan nasi. Meski begitu, Bunda selalu mensubstitusi nasi dengan kentang atau tepung sebagai sumber karbohidrat kompleks di piringku. Hal ini tidak bisa disangkal, aku jadi tidak terbiasa makan nasi, atau bahasa jawanya mboten semega. Namun, ada beberapa makanan yang menurutku, wajib disajikan dengan nasi dan tidak bisa tergantikan, atau berbahan dasar nasi yang selalu bisa kunikmati.

1. Ikan Asin/Ikan Pindang dengan Sambal


Meski aku lebih suka makan Coq Au Vin dengan asparagus rebus dan wortel mini rebus, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa nasi panas dengan sambal rawit mentah, berlauk ikan asin! Hampir dua-tiga bulan sekali aku makan ini.

2. Nasi Goreng Kampung @thegoodscafe


Aku sangat pemilih saat memakan nasi goreng; Aku menganggap memakan nasi goreng itu seperti memakan wortel goreng. Aneh. Namun, ada beberapa nasi goreng di dunia yang aku suka, dan nasi goreng kampung keluaran TheGoodsCafe ini jadi salah satunya. Lainnya adalah buatan bunda (dengan cabe rawit dan garam, daging asap dan abon sapi), buatan Oma (nasi goreng pedas dengan peas, sosis, bakso, dan beberapa bahan enak lainnya), dan buatan ku sendiri, (which is nasi putih yang disiram mentega asin dan ditaburi keju, not exactly nasi goreng). Nasi goreng disini disajikan dengan emping dan potongan ayam yang disiram bumbu pecel. YUM!

3. Sate Ayam


Ayam, bukan kambing! Karena kambing lebih enak digado ketimbang dimakan dengan nasi. Ketika bumbu kacangnya dicampur nasi, itu enak banget!

Dan... Sepertinya sekian. Aku makan soto dengan perkedel, makan bistik dengan pasta, makan ayam goreng dengan kentang rebus. Sepertinya aku harus terus mencoba makan makanan Indonesia dengan nasi.